Idul Fitri: Meneladani Sifat Jamīl dan Quddūs-nya Allah Swt

Kita berkumpul dan bersimpuh di hari yang mulia ini, sambil mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid. Memuji, menyucikan, dan mengagungkan Allah Swt. Allah yang maha indah, dan menyukai keindahan. Allah yang maha suci dan mencintai kesucian. Allah yang maha kasih, dan mencintai kasih sayang dan kelembutan.

Esensi dari Idul Fitri adalah kembali kepada fitrah. Fitrah mengandung makna “kesucian” dan “keindahan”. Kesucian hati dan keindahan perbuatan. Jika kita terlahir kembali ke dunia ini dalam kondisi suci, indah dan penuh kasih, maka tidak ada lagi kekerasan dan kezaliman. Yang muncul keharmonisan dan kedamaian. Untuk mewujudkan itu, kita harus meniru akhlak Allah Swt yang terdapat dalam makna fitrah, yaitu quddūs (maha suci), jamīl (maha indah), dan raḥīm (maha kasih), sebagaimana diperintahkan oleh Nabi Muhammad Saw: تخلقوا بأخلاق الله (Hendaklah kalian berakhlak seperti akhlak  Allah Swt.)

Bagaimana berakhlak dengan sifat quddūs-Nya Allah Swt? Sifat quddūs disebutkan sebanyak dua kali dalam Alquran. Menyiratkan kepada sucinya Allah dari segala sifat kekurangan dan keburukan, dan sucinya Allah dari segala yang menghilangkan kemuliaan dan keagungan-Nya.

Meniru akhlak Allah—al-quddūs—ini berarti kita diperintahkan untuk senantiasa suci hati dan selalu menyucikan hati. Mengapa harus hati? Karena hati ibarat mesin yang menggerakkan mobil. Jika mesin tidak bagus, maka mobil akan mogok dan tidak akan berjalan dengan baik. Bagus tidaknya sikap dan perbuatan manusia tergantung sejauh mana hati ini terkondisikan. Jika hati bagus, yang memancar dari diri kita adalah kebaikan dan keindahan. Jika hati berpenyakit, yang muncul adalah perbuatan jahat dan keburukan. Berbagai konflik, kekerasan, kezaliman yang terjadi dalam masyarakat kita pada dasarnya berangkat dari hati yang sakit. Hati yang tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Hati yang mati dan kosong dari kasih sayang dan empati.

Para ulama mengatakan bahwa penyebab sakitnya hati karena syahwat dan hawa nafsu yang menggerogoti diri kita (الهوى والشهوة أمراض تعمى القلوب) demikian kata Ibn Taymiyyah dalam kitabnya ibb al-Qulūb. Dan, hawa nafsu yang paling membinasakan adalah syahwat perut. (فأعظم المهلكات لابن آدم شهوة البطن ) demikian kata Al-Ghazālī dalam Iḥyā ‘Ulūm al-Dīn). Syahwat perut ini adalah syahwat materi

Coba kita tengok sejenak kehidupan kita sehari-hari, seberapa besar kehidupan kita didominasi oleh keinginan-keinginan materialistik. Bahkan kita sering terjebak dan menjadi budak materi. Tidak heran, jika yang muncul adalah kerakusan, sifat dengki, dendam, dan berbagai praktik yang menyimpang. Tidak heran jika korupsi merajalela di sana sini. Dusta dan manipulasi menjadi menu sehari-hari. Sikut kanan sikut kiri menjadi suatu yang dimaklumi. Syahwat materi ini dikemas dengan begitu indah, sehingga seorang menjadi silau. Menjadi lupa. Menjadi tidak terkendali. Bahkan syahwat tersebut memasuki hampir semua relung sempit kehidupan kita. Membuat kita terbelenggu dan tidak berdaya. Sehingga terkadang kita terkondisikan untuk memaklumi hal-hal yang salah, menepikan hal-hal yang benar.

Lalu, bagaimana caranya menyucikan hati kita? Jawabannya adalah dengan mengosongkan hati dari segala syahwat dan keinginan materi. Karena syahwat inilah yang kerap memunculkan penyakit hati, seperti rasa dengki, dendam, suka pamer kekayaan dan kelebihan, riya, sifat bangga diri, suka menggunjing, menghina, memfitnah atau mengadu-domba orang lain. Sifat-sifat inilah yang membuat kehidupan individu, keluarga, dan sosial menjadi terganggu.

Setelah hati kosong dari sifat-sifat buruk dan penyakit hati ini, maka kita harus menghiasi hati dengan perbuatan-perbuatan baik. Hati itu ibarat sebuah cermin bersih, sementara sifat-sifat buruk adalah debu-debu yang mengotori cermin. Jika cermin kotor, maka sulit menerima pantulan cahaya, apalagi memantulkan cahaya. Begitu pula, jika hati tidak bersih, maka sulit untuk menerima cahaya Tuhan (nur ilahi) dan kebaikan, apalagi memantulkan cahaya Tuhan dan kebaikan kepada orang lain. Hati itu ibarat kebun. Jika ingin menaman bunga, maka kita harus bersihkan kebun dari rumput atau ilalang yang mengurangi keindahan bunga. Bagaimana mungkin bunga akan indah dipandang, jika masih ada rumput dan ilalang yang menghalangi pemandangan.

Jika kita dapat menempuh kedua tahapan ini—mengosongkan hati dari sifat buruk dan mengisi hati dengan sifat terpuji, maka kita akan masuk kepada tahapan berikutnya, di mana Allah mengangkat tabir antara Dia dan hambanya. Orang itu menjadi dekat, seperti dekatnya urat nadi dengan leher. Allah mencintai orang tersebut. Ketika Allah cinta, maka tidak ada permohonan yang tertolak. Tidak ada hijab antara Allah dan hambanya. Dalam hadis qudsi Allah berfirman, “Jika Aku mencintai hamba-Ku yang mendekatkan diri kepada-Ku, maka Aku akan menjadi telinga yang digunakan untuk mendengar. Aku akan menjadi mata yang digunakan untuk melihat. Aku akan menjadi tangan yang digunakan untuk memukul. Dan Aku akan menjadi kaki yang digunakan untuk berjalan.” Artinya, Allah mewujud dalam dirinya, dengan memberikan segala bantuan dalam setiap gerak-geriknya. Dalam setiap desahan nafasnya. Dalam setiap aliran darahnya.

Kita dapat melihat dalam Alquran kisah tentang seorang hamba Allah yang sangat dicintainya, yang bernama Maryam. Allah memilihnya di antara semua perempuan di dunia. Mengapa? Karena Maryam menjaga kehormatan dirinya. Hati dan lisannya selalu bertasbih, mengagungkan dan memuji Allah. Anggota tubuhnya senantiasa sujud dan ruku’ di hadapan Dzat yang maha indah. Beribadah dengan mengikhlaskan seluruh keberagamaannya. Ketika Allah mencintainya, maka semua kebutuhannya pasti akan terpenuhi. Ketika Nabi Zakariya masuk ke dalam mihrabnya Bunda Maryam, beliau mendapati banyak buah-buahan. Buah-buahan musim dingin ketika saat itu musim panas. Dan buah-buahan musim panas ketika saat itu musim dingin. Nabi Zakariya bertanya, “Darimana kamu dapatkan ini?” Bunda Maryam berkata, “Semua ini datang dari Allah Swt. Allah memberikan rezeki kepada siapa pun yang dikehendakinya.”

Bagaimana berakhlak dengan sifat jamīl-nya Allah? Nabi Muhammad Saw bersabda: ﴾ إن الله جميل يحب الجمال ﴿ (Sesungguhnya Allah itu indah, dan menyukai keindahan). Salah satu manifestasi keindahan Allah adalah pada penciptaan alam semesta. Tidak ada kesemrautan dalam ciptaan-Nya. Semua menampakkan keteraturan, keharmonisan, dan keindahan.

Meniru akhlak Allah—jamīl—ini berarti kita harus beribadah kepada Allah dengan sifat indah yang dicintai-Nya. Ucapan kita harus indah. Perbuatan kita mesti indah. Akhlak kita wajib indah. Dan semua yang melekat pada anggota badan kita harus mencerminkan keindahan. Meniru sifat jamīl Allah ini dapat dilakukan dalam dua keadaan.

Pertama, jamīl al-maẓhar (indahnya penampilan). Badan kita selalu memperlihatkan nikmat Allah sebagai tanda mensyukuri nikmat. Nabi Muhammad Saw pernah bersabda ﴾  إنّ الله يحب أن يرى أثر نعمته على عبده ﴿ (Sesungguhnya Allah suka melihat (tampaknya) bekas nikmat (yang Dia dilimpahkan) kepada hamba-Nya).

Salah satunya adalah penampilan indah dilihat, enak dipandang.  Badan selalu bersih dari najis dan kotoran. Nabi pernah mengatakan, ﴾ إن الله نظيف يحب النظافة ﴿ (Allah itu bersih dan menyukai kebersihan). Tubuh selalu wangi. Salah seorang sahabat Nabi, yang bernama Anas ibn Malik, pernah berkata, “Saya tidak pernah mencium bau parfum yang lebih wangi daripada bau Rasulullah.” Kuku juga selalu dipotong dengan rapi. Rambut dan janggut disisir dengan rapi. Demikian pula, dalam berpakaian. Tidakkah kita melihat kepada baginda Nabi yang selalu berpenampilan rapih, indah dan wangi. Salah seorang isteri Nabi yang bernama ‘Ā’ishah—raḍiya Allāh ‘anhā—berkata, “Pernah satu ketika, ada sekelompok orang berdiri di pintu rumah Nabi. Beliau pun keluar menemui mereka. Aku melihat Nabi merapikan rambut dan janggutnya. Aku pun berkata, ‘Mengapa tuan melakukan itu?’ Nabi menjawab,

إن الله يحب من عبده أن يتجمل لإخوانه إذا خرج إليهم

“Allah menyukai hamba-Nya yang berpenampilan indah ketika menemui saudaranya”.

Kedua, jamīl al-af‘āl (indahnya perbuatan). Salah satu dari jamīl al-af‘āl adalah mengasihi (raḥīm) dan bersikap baik (iḥsān) kepada semua makhluk Allah Swt. Nabi Saw suatu ketika diminta oleh Sahabat untuk berdoa kepada Allah Swt agar menghancurkan orang-orang kafir Mekkah pada pertempuran Uhud, Nabi menjawab, “Sesungguhnya Aku tidak diutus untuk membawa laknat, tetapi membawa rahmat.” (إني لم أبعث لعّانا، وإنما بعثت رحمة)

Padahal dalam perang Uhud, Nabi banyak terkena luka, bahkan sebagian sahabatnya banyak yang gugur, mati sahid dalam perang. Tetapi Nabi malah menolak untuk mendoakan kehancuran kepada mereka, karena sifat rahmat dan ihsan yang ada dalam diri Nabi.

Diriwayatkan bahwa suatu ketika, Nabi dicegat oleh seorang pandir Quraysh di tengah jalan, lalu orang tersebut menyiramkan tanah ke atas kepala Nabi. Nabi Muhammad diam menahan pedih. Tahukah apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad? Apakah ia membalas? Tidak. Beliau malah pulang ke rumah dengan tanah yang masih menempel di kepala. Fatimah, puterinya, kemudian datang membersihkan tanah di kepala ayahnya itu. Ia membersihkannya sambil menangis. Tidak ada yang lebih pilu rasanya dalam hati seorang ayah daripada mendengar tangis sang anak, lebih-lebih anak perempuan. Setitik air mata kesedihan yang mengalir dari kelopak mata seorang puteri terdapat sepercik api yang membakar jantung. Nabi pun tak kuasa menahan getir, lalu menangis tersedu-sedu di sisi sang puteri. Juga, secercah duka hati adalah rintihan jiwa yang terasa mencekik leher, dan hampir pula menyuluti emosi Nabi untuk membalas. Tetapi, Nabi adalah seorang yang sabar dan pemaaf. Apakah yang Nabi lakukan dengan tangis puterinya yang baru saja kehilangan sang ibu tercinta itu? Nabi Muhammad hanya mampu menghadapkan jiwanya kepada Allah, seraya memohon dikuatkan batinnya untuk menerima perlakuan keji itu. “Jangan menangis anakku!” ucap Nabi kepada puterinya yang sedang berlinang air mata itu, “Allah akan melindungi ayahmu.” Begitulah cara Nabi Muhammad Saw menolak kejahatan dengan kebaikan.

Itulah moralitas agama. Sesungguhnya moralitas agama yang paling mengesankan dalam hidup manusia adalah “menolak kejahatan dengan kebaikan,” sebagaimana telah diperlihatkan dengan cantik dan indah oleh Nabi Muhammad Saw.

Dalam kisah lain diceritakan bahwa bertahun-tahun yang lalu, seorang ibu dari salah seorang sultan dari Khilafah Utsmaniyah membaktikan hidupnya untuk kegiatan amal saleh. Ia membangun masjid, rumah sakit besar, dan sumur-sumur umum untuk daerah pemukiman yang tidak punya air di Istambul, Turki. Pada suatu hari, ia mengawasi pembangunan rumah sakit yang dibiayai sepenuhnya dari kekayaannya. Ia melihat ada semut kecil jatuh pada adukan beton yang masih basah. Ia memungut semut itu dan menempatkannya pada tanah yang kering. Tak lama setelah itu, ia meninggal dunia. Kepada banyak kawannya, ia muncul dalam mimpi mereka. Ia tampak bersinar bahagia dan cantik. Kawan-kawannya bertanya, apakah ia masuk surga karena sedekah-sedekah yang diberikannya ketika masih hidup? Ia menjawab, “Saya tidak masuk surga karena sumbangan yang sudah aku berikan. Saya masuk surga karena seekor semut.” Ibu ini dimasukkan ke dalam surga oleh Allah karena sifat ihsan dan rahmatnya kepada makhluk Allah yang bernama semut.

Singkatnya, menjadi seorang Muslim sejati yang berusaha meniru sifat jamīl dan quddūs-nyaAllah, berarti hati dan jiwa kita selalu suci. Penampilan kita harus rapi, bersih, wangi, dan memakai pakaian-pakaian yang indah dan bersih. Serta akhlak dan perilaku menebarkan kasih sayang dan kebaikan kepada semua makhluk yang ada di bumi ini.


Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button