Obat Hati: Ḥusn al-Ẓann

Sebuah lembaga penelitian, Carnegie Institute, menganalisa laporan 10.000 orang, dan menyimpulkan bahwa 15% kesuksesan mereka terkait dengan technical training, sedangkan sisanya 85% terkait dengan kepribadian. Unsur yang paling menonjol dari kepribadian ini adalah karakter.

Penelitian ini ingin menceritakan kepada kita bahwa ada hubungan yang sangat erat antara kesuksesan dengan karakter yang baik. Dalam Alquran (al-Mu’minun ayat 1), Allah Swt menegaskan bahwa ada hubungan antara keimanan dengan kesuksesan. Dalam Alquran, Allah berfirman: qad aflaha al-mu’minun, orang beriman pasti sukses dalam kehidupan di dunia ini dan akhirat. Allah menggunakan lafaz qad yang dalam bahasa Arab mengandung muatan “kepastian”.

Jika kita beriman, namun tidak sukses, berarti ada kesalahan dalam keimanan kita. Mukmin yang mana yang pasti sukses? Jawabannya adalah mukmin yang sebenarnya atau mukmin sejati. Lalu mengapa mukmin sejati pasti sukses? Karena dalam diri seorang mukmin sejati terdapat banyak nilai-nilai dan prinsip-prinsip kesuksesan.

Di antara prinsip tersebut, yang diakui dalam berbagai teori motivasi dan pengembangan diri, adalah husn al-zann (baik sangka). Dalam kajian akhlak Islam, husn al-zann dibagi ke dalam tiga bagian.

Pertama, husn al-zann billah (baik sangka kepada Allah Swt). Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman:

أنا عند ظن عبدي بي فإن ظن بي خيرا فله الخير فلا تظنوا بالله إلا خيرا

“Saya tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Jika seorang berprasangka baik kepada-Ku, maka baginya kebaikan. Maka, hendaklah kalian berperasangka baik kepada Allah.”

Baik sangka kepada Allah Swt melahirkan energi positif sehingga beban yang berat akan menjadi ringan, masalah yang sulit akan mudah teratasi.

Baik sangka kepada Allah ditandai oleh beberapa sifat. Yang pertama, tawakal kepada Allah Swt. Menyerahkan segala sesuatu hasil yang telah kita kerjakan hanya kepada Allah. Kedua, seorang yang berbaik sangka kepada Allah akan bersikap ridha terhadap segala takdir dan ketentuan Allah, dan percaya bahwa apa pun yang telah ditentukan oleh Allah adalah yang terbaik buat dirinya.

Dalam Alquran diceritakan tentang dua orang hamba Allah yang saleh, yang bernama Ibrahim dan Ismail. Baik sangka keduanya kepada Allah memunculkan keridaan terhadap segala ketentuan Allah. Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putera terkasihnya, yang didambakan semenjak lama, Nabi Ibrahim pun menerima semua itu dengan ikhlas. Ketika ditanyakan kepada anaknya tentang perintah Allah tersebut, Nabi Ismail juga ikhlas, bahkan dengan tegas beliau mengatakan: “Wahai bapakku, lakukan apa yang telah diperintahkan. Insya Allah engkau akan mendapatiku sebagai seorang yang sabar.” Berkat baik sangka kepada Allah tersebut, yang memunculkan sikap ridha dan sabar, keduanya Allah muliakan dan dijadikan sebagai kekasih Allah Swt.

Kedua, husn al-zann bi-nafsihi (baik sangka kepada dirinya sendiri). Ini memunculkan dua sikap, yaitu positive thinking dan optimisme dalam diri. Dalam teori motivasi dan pengembangan diri, ada ungkapan “anda adalah hasil ciptaan dari pikiran anda sendiri”. Ada pula ungkapan, you can if you think you can (kamu bisa jika kamu berpikir kamu bisa). Jika kita berpikiran positif, maka hasilnya adalah positif. Jika berpikiran negatif, maka hasilnya adalah negatif. Seorang yang berpikiran positif selalu percaya bahwa dirinya punya potensi untuk melakukan sesuatu. Tidak mudah menyerah dan tidak pernah kalah sebelum bertanding.

Nabi mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap optimis, dan melarang sikap putus asa. Optimisme adalah potensi amat besar yang mendorong pada pergerakan dan produktivitas. Pada saat perang Khandaq, Nabi dikepung oleh 10 ribu orang musyrik. Ketika menggali parit dan umat Islam sudah dalam keadaan letih, takut dan terkepung, terlihat batu karang yang keras. Nabi pun datang memukul batu karang tersebut, lalu muncullah percikan, lalu beliau bersabda, “Allahu Akbar Romawi pasti dikuasai.” Lalu, Nabi memukul batu karang itu untuk kedua kalinya, batu kembali mengeluarkan percikan. Lalu bersabda, “Allahu Akbar, Persia pasti dikuasai.” Pada pukulan ketiga batu itu pecah. Dalam situasi kritis Nabi menghembuskan harapan. Dan ternyata, kedua negara besar itu pun dapat dikuasai di kemudian hari.

Ketiga, husn al-zann bi al-nas (baik sangka kepada orang lain). Dalam QS al-Hujurat ayat 12, Allah Swt berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ

Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa

Dalam ayat ini terkandung perintah untuk menjauhi prasangka negatif, karena ia merupakan perbuatan dosa. Dalam ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus, mencari-cari kesalahan orang lain, yang biasanya merupakan efek dari prasangka yang buruk. Sifat ini lah yang kerapkali menjadi pemicu berbagai konflik sosial di wilayah kita.

Ada banyak bahaya prasangka negatif. Diantaranya adalah buruk sangka berpotensi mengganggu jiwa dan kesehatan mental. Selama orang suka usil dan hanya mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang maka selama itu pula pikiran dan perasaan dan pikirannya dipenuhi oleh hal negatif, selama itu pula kita tidak akan maju dan berprestasi.

Selain itu, buruk sangka hanya akan merusak diri dan membuat kita menjadi tidak produktif. Pengalaman menunjukan bahwa berburuk sangka hanya membuat kita tidak produktif, malas, dan lebih sering menggunakan perasaan untuk membela diri yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.

Jika prinsip husn al-zann ini ada dalam diri kita, pasti kita akan mendapatkan kesuksesan dalam kehidupan di dunia ini, terlebih dalam kehidupan di akhirat.

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca juga
Close
Back to top button