Haji Mabrur

Kata Dzul Hijjah berarti “bulan haji”. Namun demikian, dalam bulan ini kita akan menemukan dua peristiwa penting dalam keberagamaan kita, yaitu haji dan kurban. Yang keduanya tentu mempunyai keterkaitan dan akar historis yang sama, yang bertemu dengan seorang figur suci yang bernama Ibrahim, yang disebut abu al-anbiya (bapaknya para nabi). Dan memang dari sulbi beliau lahir para nabi, sampai kepada nabi terakhir, Muhammad Saw.

Haji adalah salah satu fondasi Islam, yang diwajibkan pada tahun ke-4 hijrah, setelah perang Uhud. Dibandingkan dengan fondasi-fondasi Islam yang lain, haji memiliki keunikan tersendiri. Jika dalam salat dan puasa titik tekannya pada ‘ibadah badaniyyah (ibadah fisik), jika pada zakat, infak dan sedekah penekanannya pada ‘ibadah maliyyah (ibadah harta), maka haji menggabungkan keseluruhannya. Badan ikut melaksanakan, uang ikut keluar, begitu pun dengan hati. Namun, yang terpenting dari itu semua adalah hati. Karena hati adalah sang penggerak. Ia menggerakkan badan, dan menggerakan keingingan untuk mengeluarkan hata. Oleh karena itu, haji adalah ibadah yang bersyarat, sebagaimana ditegaskan Allah Swt dalam Alquran:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (QS Ali Imran: 97)

Jadi, syarat utama bagi orang yang ingin melaksanakan ibadah haji adalah adanya “kemampuan” (istita’ah), yang mencakup fisik maupun finansial. Bagi mereka yang telah mempunyai kemampuan dan kelapangan dalam kedua aspek ini harus segera melaksanakan haji. Bahkan, Nabi dengan tegas memberikan peringatan yang keras:

من ملك زادا وراحلة تبلغه إلى بيت الله ولم يحج فلا عليه أن يموت يهوديا أو نصرانيا
“Barangsiapa memiliki bekal dan kendaraan yang dapat mengantarkannya haji ke Baitullah, namun tidak melakukannya, semoga saja ia tidak mati sebagai seorang Yahudi atau Nasrani.”

Di kalangan para ulama Tabi‘in, seperti Sa‘id ibn Jubayr, Ibrahim al-Nakha’i, Mujahid dan Tawus, mereka pernah berkata:

لو علمت رجلا غنيا وجب عليه الحج ثم مات قبل أن يحج ما صليت عليه
“Seandainya saya tahu seorang laki-laki kaya yang wajib melaksanakan haji, kemudian ia meninggal sebelum melaksanakan haji,maka saya tidak akan menyalatinya.”

Peringatan keras dari Nabi dan sikap para ulama Tabi‘in di atas menegaskan tentang sangat pentingnya ibadah haji bagi yang sudah punya kemampuan, karena balasan yang diberikan kepada orang yang ibadah hajinya diterima adalah bukan suatu yang biasa, melainkan surga yang menjadi impian setiap muslim. Nabi mengatakan:

الحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة
“Haji mabrur balasannya tidak lain adalah surga”

Haji mabrur adalah predikat yang diinginkan oleh umat Islam yang melaksanakan ibadah haji. Namun untuk sampai kepada predikat yang agung ini, setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti yang diuraikan oleh para ulama. 

Yang pertama adalah niat. Dalam Islam, persoalan niat adalah persoalan yang sangat penting. Segala amal kebaikan yang kita lakukan harus diniatkan untuk mencari keridaan Allah Swt, termasuk haji dan umrah. Ini ditegaskan dengan jelas dalam Alquran:

وأتموا الحج والعمرة لله
Sempurnakan haji dan umrah karena Allah

Kata lam di sini menunjukkan “kepemilikan”. Maksudnya, perintah haji dan umrah itu adalah untuk Allah, bukan selainnya. Bukan untuk sebuah tujuan prestise atau status sosial di masyarakat, atau melaksanakan haji agar dipanggil bapak atau ibu haji, atau mungkin untuk tujuan-tujuan duniawi lainnya. Tuntutan Allah agar kita melaksanakan ibadah haji karena Ia adalah pantas dan logis. Karena, semua kebutuhan kita dipenuhi oleh Allah. Maka, Allah cemburu jika kita mengerjakan suatu perbuatan karena selainnya; bahkan Allah tidak akan menerimanya, seperti ditegaskan oleh Nabi:

إن الله لا يقبل من العمل إلا ما كان خالصا وابتغي به وجهه
“Allah sungguh tidak menerima sebuah perbuatan kecuali jika dilaksanakan karena tulus dan mencari keridhaan Allah”

Ada sebuah kisah menarik, yang diriwayatkan dari Abu Hurayrah: Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Orang yang pertama kali disidangkan pada hari Kiamat adalah seorang yang dinilai mati syahid. Orang itu dihadirkan, kemudian kepadanya dibeberkan segala nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakui hal itu. Kemudian Allah bertanya: ‘Apa yang engkau lakukan sebagai rasa syukur terhadap nikmat-nikmat itu? Ia menjawab: Aku berperang membela-Mu hingga aku mati syahid. Allah mengomentari: “Engkau berdusta, karena engkau berperang hanya untuk dikatakan sebagai si pemberani, dan itu sudah dikatakan orang”. Maka vonisnya kemudian diputuskan, dan ia diseret dengan muka menghadap tanah, hingga ia dilemparkan ke neraka. Kemudian seseorang yang telah mempelajari Alquran, mengajarkannya dan membaca Alquran. Orang itu dihadirkan, kemudian kepadanya dibeberkan berbagai nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakui hal itu. Kemudian Allah bertanya: Apa yang engkau lakukan sebagai rasa syukur terhadap nikmat-nikmat itu? Ia menjawab: Aku mempelajari Alquran, dan mengajarkannya kepada manusia, dan aku membaca Alquran demi-Mu. Allah mengomentari jawabannya itu: “Engkau berdusta, karena engkau mempelajari Alquran agar dikatakan orang sebagai orang alim, dan engkau membaca Alquran agar manusia mengatakan: dia seorang qari. Dan itu sudah dikatakan orang. Maka vonisnya kemudian diputuskan, dan ia diseret dengan muka menghadap tanah, hingga ia dilemparkan ke neraka. Selanjutnya seseorang yang Allah berikan keluasan harta, dan kepadanya diberikan seluruh macam kekayaan. Orang itu dihadirkan, kemudian kepadanya dibeberkan berbagai nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakui hal itu. Kemudian Allah bertanya: Apa yang engkau lakukan sebagai rasa syukur terhadap nikmat-nikmat itu? Ia menjawab: Setiap aku mendapati jalan dan usaha kebaikan yang Engkau senangi agar aku nafkahkan hartaku untuknya, aku segera menginfakkan hartaku demi-Mu. Allah mengomentari jawabannya itu: “Engkau berdusta, karena engkau melakukan itu semua agar dikatakan sebagai seorang dermawan, dan itu telah dikatakan orang. Maka vonisnya kemudian diputuskan, dan ia diseret dengan muka menghadap tanah, hingga ia dilemparkan ke neraka”

Kemudian Rasulullah menepuk lututku dan bersabda: “Wahai Abu Hurayrah, tiga orang itu adalah makhluk Allah yang pertama yang dibakar oleh api neraka pada hari kiamat.” Ibn ‘Abd al-Barr berkata: hadis ini adalah bagi orang yang berniat dengan ilmu dan amalnya bukan karena Allah.

Mengapa niat menjadi penting: pertama, karena manusia nanti akan dibangkitkan sesuai dengan niatnya (يبعث الناس على نياتهم). Kedua, niat yang menentukan suatu menjadi ibadah atau bukan (تمييز العبادات عن العادات). Niat juga akan menentukan besar tidaknya suatu perbuatan. Salah seorang ulama yang bernama ‘Abd Allah ibn al-Mubarak pernah berkata, seperti yang dikutip dalam kitab Jami‘ al-‘Ulum wa al-‘Hikam karya Ibn Rajab al-Hanbali (Juz I: 69):

رب عمل صغير تعظمه النية ، ورب عمل كبير تصغره النية
“Berapa banyak amalan yang sedikit bisa menjadi besar karena niat dan berapa banyak amalan yang besar bisa bernilai kecil karena niatnya”

Oleh karena itu, kita harus senantiasa memperbaiki niat kita setiap saat. Dalam matan Zubad, Ibn Ruslan menyebutkan:

وسائر الأعمال لا تخلص *  إلا مع النية حيث تخلص
فصحح النية قبل العمل *  وائت بها مقرونة بالأول

Dan semua amal tidak akan dapat diterima ** kecuali jika diikuti dengan niat yang kau bersihkan
Oleh karena itu, perbaiki niat sebelum beramal ** Hadirkan niat bersamaan dengan yang pertama

Kedua, semua biaya yang dipergunakan untuk menunaikan ibadah haji mesti berasal dari sumber yang halal dan baik, bukan uang haram atau syubhat (seperti hasil korupsi, kolusi, suap, dan lain-lain). Begitu pula, dalam mengkonsumsi makanan sehari-hari kita juga harus menghindari makanan yang haram, baik substansi maupun cara mendapatkannya. Meskipun secara lahiriyah mungkin makanan tersebut mengandung gizi dan vitamin yang cukup, namun akan menumbuhkan perilaku yang buruk dan merusak, baik bagi dirinya maupun bagi keluarganya di dunia ini maupun di akhirat nanti. Rasulullah Saw pernah mengingatkan kita,

كل لحم نبت من حرام فالنار أولى به
“Setiap daging yang tumbuh dari barang yang haram, maka neraka lebih utama baginya.”

Artinya, makanan yang haram itu akan mendorong perilaku jahat, yang menyebabkan kecelakaan yang bersifat abadi di akhirat. Dalam hadis lain, disebutkan bahwa doa orang tersebut tidak diterima oleh Allah:

الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء يا رب ! يا رب! و مطعمه حرام ومشربه حرام وغذي بالحرام فأنى يستجاب لذلك

“….Seorang laki-laki yang lusuh, rambutnya acak-acakan, berdebu dan kotor, menengadahkan tangannya ke langit berdia. Padahal pakaian yang dikenakannya haram, makanan dan minumannya haram. Bagaimana akan dikabulkan doanya?” (HR. Muslim)

Yang ketiga, selain mengetahui tatacara manasik haji, seorang yang berhaji harus meninggalkan segala bentuk rafath, fusuq dan jidal, seperti yang diperintahkan Allah dalam Alquran:

فمن فرض فيهن الحج فلا رفث ولا فسوق ولا جدال فى الحج
Barangsiapa yang diwajibkan melaksanakan haji, maka jangan mengucapkan kalimat rafath, fusuq dan juga jangan berdebat dalam pelaksanaan haji

Rafath adalah segala perbuatan yang mengarah kepada hubungan seksual, seperti pandangan penuh birahi, berbicara kotor, rayuan terhadap istri. Fusuq adalah semua bentuk perbuatan maksiat kepada Allah. Dan, jidal adalah berbantah-bantahan, pertengakaran dan atau perdebatan kusir yang semuanya itu bisa menimbulkan permusuhan.

Jika perkara-perkara ini dapat ditinggalkan, maka seperti yang dikatakan Rasul:

من حج هذا البيت فلم يرفث ولم يفسق خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه
Barangsiapa yang berhaji ke Baitullah, lalu tidak mengucapkan kalimat rafath dan melakukan kefasikan, maka ia terhapus dari dosanya seperti ketika dilahirkan dari rahim ibunya

Selain itu, perbanyak ibadah-ibadah seperti shalat sunnah dan membaca Alquran, dan perbanyak pula bersedekah ketika beribadah haji. Karena, seperti dikatakan oleh al-Hasan al-Basri, 

صدقة درهم بمائة ألاف
(sedekah satu dirham menyamai seratus ribu dinar).

Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk melaksanakan ibadah haji dan menganugerahi haji yang mabrur. Amin.

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button