Etika Sukses Nabi Ismail

Renungan Idul Adha (2)

Bulan Zulhijah mengingatkan kita kepada beberapa peristiwa maha penting dalam tradisi keberagamaan umat Islam, yaitu ritual haji dan qurban. Kita diingatkan pula kepada tokoh-tokoh agung yang berada di balik peradaban besar tersebut yang juga berperan membangun Ka’bah yang tetap kokoh berdiri hingga saat ini. Siapa mereka? Mereka adalah Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan Nabi Ismail—‘alayhim al-salat wa al-salam. Kita sering mendengar cerita tentang Nabi Ibrahim, namun jarang mengungkap peran Nabi Ismail dan Bunda Hajar. Dalam kesempatan yang mulia ini, kita akan belajar prinsip-prinsip agung dari seorang tokoh mulia yang bernama Ismail. Nama “Ismail” berasal dari kata isma, yang berarti “mendengar”, dan El yang berarti “Allah”. Jadi, Ismail itu artinya Allah maha mendengar, sehingga mengabulkan doa Nabi Ibrahim untuk mendapatkan keturunan.

Dalam Alquran, Allah Swt memuji Nabi Ismail dengan memberikan kepadanya beberapa gelar. Pertama, Nabi Ismail mendapatkan dari Allah Swt gelar sadiq al-wa’d, yang “orang yang selalu menepati janji”. (إنه كان صادق الوعد … ). Mengapa Allah memberikan kepada Ismail gelar tersebut? Ketika Nabi Ibrahim bermimpi bahwa Allah memerintahkan untuk menyembelih Ismail, puteranya tercinta, beliau pun menceritakan kepada puteranya tersebut perihal mimpinya itu. Apa respons Ismail? Tanpa terduga, Ismail, yang kala itu berusia 13 tahun, menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang telah diperintahkan. Insya Allah engkau akan mendapatiku sebagai seorang yang sabar.” (يا أبتي افعل ما تؤمر ستجدني إنشاء الله من الصابرين)

Ismail pun kemudian memenuhi janjinya tersebut dan menyerahkan dirinya secara total untuk disembelih. Tidak ada keraguan dan kegelisahan dalam dirinya. Kepatuhan, kepasrahan dan kerendahan hati inilah yang mengangkat derajat Ismail. Ismail menghilangkan keegoisan dirinya, yang dalam konteks saat ini, keegoisan diri merupakan salah satu penyebab berbagai kekerasan dan konflik komunal yang marak terjadi di negara kita yang tercinta ini. Untuk menjadi sukses dalam kehidupan di dunia ini dan juga sukses dalam kehidupan di akhirat, kita harus mengikis keegoisan diri yang ada dalam diri kita dan memasrahkan kepatuhan yang total hanya kepada Allah Swt.

Konon dikisahkan, ada seorang bernama Al-Shibli yang begitu ingin menjadi seorang sufi. Ia mendatangi salah seorang guru sufi termasyhur, yang bernama Junayd al-Baghdadi. Al-Shibli dengan keangkuhannya meminta Junayd untuk “menjual” hikmah pengetahuan ilahi. Junayd pun menyanggupinya. Sebagai syarat, Junayd meminta agar Al-Shibli menjadi seorang penjual arang selama setahun. Bagi Al-Shibli, ini adalah pukulan yang telak. Ia adalah salah seorang yang terpandang di kota. Menjadi penjual arang sama saja dengan menjadi seorang pengemis. Namun, demi cita-cita mulia, Al-Shibli rela meninggalkan jabatan. Selang setahun, Al-Shibli datang menagih janji Junayd untuk memberikan hikmah pengetahuan ilahi. Junayd kembali meminta Al-Shibli berbuat hal lain selama satu tahun ke depan. Demikian seterusnya dalam waktu tujuh tahun. Pekerjaan yang didapatkan Al-Shibli setiap tahun lebih rendah daripada pekerjaan sebelumnya. Puncaknya, Al-Shibli harus menjadi pengemis compang-camping, dan tak berhak memakan hasil dari mengemisnya tadi. Kehidupan Al-Shibli pun hancur. Ia didera penderitaan berkepanjangan. Sementara Junayd al-Baghdadi selalu menambah dan terus menambah bebannya.

Pada akhir cerita, ketika Al-Shibli dijadikan pelayan bagi murid-murid Junayd, Al-Shibli pun tersenyum. Ia menjalani pekerjaan itu dengan senang hati. Al-Shibli sadar, deraan demi deraan yang diberikan Junayd, ternyata begitu cocok untuk mengikis keegoisan dirinya. Selama ini, Al-Shibli sibuk dengan kepentingannya sendiri. Ia, seperti kebanyakan umat beragama yang lain, selalu ingin menjadi yang terdepan. Al-Shibli menyadari, keinginan menjadi yang terdepanlah yang membuat hidup ini hancur. Kita senantiasa ingin bersaing dan tidak pernah puas. Apakah ketika dunia sudah ada di genggaman tangan kita, kita akan bahagia? Nabi Ismail mengajarkan kebahagiaan dengan cara menghilangkan segala bentuk keegoisan diri dan mengikhlaskan keberagamaan hanya kepada Allah Swt.

Sikap memenuhi janji, yang diperlihatkan dengan cantik oleh Nabi Ismail ini, merupakan perintah yang mengandung kewajiban mutlak dalam Alquran. Dalam Alquran disebutkan: “Hendaklah kalian memenuhi janji. Karena ia pasti akan diminta pertanggungjawabannya.” (وأوفوا بالعهد إن العهد كان مسؤولا). Dalam hadis disebutkan “Janji itu adalah hutang. Celakalah orang yang berjanji, lalu mengingkarinya.” Nabi mengucapkannya selama tiga kali. (العدة دين. ويل لمن وعد ثم أخلف …).

Dalam konteks saat ini, “memenuhi janji” adalah salah satu sikap dan perilaku yang sangat dibutuhkan dalam masyarakat kita yang cenderung dikuasai oleh kemunafikan hampir dalam semua aspek kehidupan. Sikap munafik ini digambarkan dengan terang benderang oleh Nabi dengan beberapa ciri penanda: (1) jika berbicara selalu dusta (إذا حدث كذب); (2) jika diberikan amanat selalu khianat (وإذا ائتمن خان); (3) dan jika berjanji selalu ingkar (وإذا وعد أخلف).

Dalam sejarah umat manusia, ketiga karakter dan perilaku ini adalah faktor penyebab rusaknya tatanan sosial masyarakat. Terlebih lagi jika suatu pemerintahan atau negeri dipimpin oleh seorang yang tidak amanah, suka berdusta dan ingkar janji. Pernahkah kita menengok ke belakang tentang kehinaan yang dialami oleh kaum Yahudi karena banyak melanggar perjanjian yang mereka buat dengan Allah Swt. Dalam Alquran (Al-Ma’idah: 12-13) disebutkan:

“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan Kami telah angkat diantara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kalian. Jika kalian sungguh-sungguh mendirikan salat, menunaikan zakat, beriman kepada rasul-rasul-Ku, membantu mereka, dan memberikan pinjaman yang baik kepada Allah, Aku sungguh akan menutupi dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Barangsiapa yang kafir sesudah itu, sungguh ia telah tersesat dari jalan yang lurus.

Tetapi, karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka. Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan Allah dan sengaja melupakan sebagian peringatan Allah. Kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan mereka kecuali sedikit diantara mereka yang tidak berkhianat. Maka, maafkan dan biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Gelar kedua yang diberikan oleh Allah kepada Ismail adalah “seorang yang sabar”. وإسماعيل وإدريس وذاالكفل كل من الصابرين (Ceritakanlah kisah tentang Ismail, Idris dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang sabar). Demikian Allah menyebut Ismail dalam Surat Al-Anbiya’ [21]: 85.

Sabar adalah satu prinsip kehidupan. Tanpanya, tidak akan pernah ada alam semesta. Tidak akan pernah ada kehidupan. Segala sesuatu di alam dan kehidupan kita ini membutuhkan prinsip kesabaran. Coba kita renungkan sejenak alam ini. Bukankah Allah menciptakannya dalam enam hari? Padahal Allah mampu menciptakannya sekejap mata dalam hitungan detik. Coba kita perhatikan ciptaan Allah yang bernama “janin”. Bukankah ia berkembang bertahap-tahap, tidak langsung sekaligus. Coba kita perhatikan tumbuh-tumbuhan, bukankah ia tumbuh berangsur-angsur. Dengan semua ini, Allah ingin mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatu dalam realitas ini berada dalam prinsip tadarruj (tumbuh secara bertahap). Pertumbuhan dan perkembangan ini tentu saja membutuhkan kesabaran. Maka, jika kita ingin unggul dalam kehidupan intelektual, kita harus sabar dalam belajar. Jika ingin sukses dalam kehidupan ekonomi, kita harus sabar dalam bekerja. Jika ingin wilayah kita maju dalam pembangunan, pemerintah daerah bersama rakyat harus sabar dalam bekerja demi kesejahteraan bersama. Tidak pernah menyerah. Intinya, sabar adalah kunci kesuksesan.

Nabi Ismail mengajarkan kepada kita bahwa kesabaran dalam taat kepada Allah adalah yang terpenting. Baik dalam menjalankan segala perintah Allah, atau dalam menjauhkan diri dan menjaga seluruh anggota tubuh kita dari melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. Sabar menjaga lisan dari ghibah, dusta, mengadu domba, berkata kotor, atau menyakiti orang lain dengan lisan kita. Sabar menjaga mata dari hal-hal yang diharamkan Allah. Sabar menjaga telinga dari mendengar hal-hal yang dilarang oleh Allah. Sabar menjaga hati dengan tidak bersikap ujub atau gemar membanggakan kelebihan yang ada pada diri kita atau merasa lebih baik daripada orang lain. Menjaga hati dengan tidak takabur atau merasa besar dan hebat. Menjaga hati dari sikap riya’ atau senang mempertontonkan kehebatan diri. Sifat-sifat ini sering datang di hati kita, meskipun tidak kita sadari. Virus-virus jahat ini kerap menjangkiti hati kita. Oleh karena itu, kita harus sering melakukan instrospeksi diri terhadap keadaan hati kita.

Kata Nabi, الصبر ضياء (kesabaran adalah cahaya). Mengapa Nabi tidak mengatakan “sabar itu emas”, namun cahaya? Jawabannya adalah karena dunia yang kita singgahi ini penuh dengan kegelapan. Berbagai ujian, cobaan, atau bencana yang menimpa kita sering membuat kita berada dalam kegelapan. Rasa takut dan khawatir  merasuki seluruh umat manusia. Tidak heran jika orang miskin takut tidak mendapatkan makanan. Orang kaya khawatir hartanya berkurang atau dicuri orang. Yang mempunyai jabatan khawatir kedudukannya akan lengser. Pekerja takut di-PHK. Pedagang takut bisnisnya rugi atau bangkrut. Begitu seterusnya.

Semuanya ini adalah kegelapan, yang sering membuat kita gelap mata. Membuat kita stres dan kehilangan akal sehat. Pada saat seperti ini hanya sabar yang dapat menjadi cahaya dalam kehidupan kita. Hanya kesabaran yang dapat membuat kita keluar dari krisis yang sedang kita hadapi. Sungguh, kesabaran adalah pelita yang akan menuntun kita bertemu dengan rahmat dan kasih sayang Allah Swt.

Oleh karena itu, kita harus mengembangkan sikap sabar. Saking pentingnya sabar ini, maka tidak heran jika Alquran menyebut sabar lebih dari 90 kali, yang menunjukkan pentingnya sifat ini bersemayam dalam diri seorang muslim. Allah juga menisbatkan kepada “sabar” segala kebaikan dan derajat yang tinggi. Allah juga menjanjikan kepada orang-orang yang sabar bahwa Ia akan selalu bersama mereka (إن الله مع الصابرين). Bahkan, dalam diri orang yang sabar terkumpul beberapa sifat yang tidak terdapat pada selain mereka, misalnya, selalu berada dalam petunjuk, kasih sayang dan doa dari Allah Swt (أولئك عليهم صلوات من ريهم و رحمة وأولئك هم المهتدون ).

Yang terakhir, pelajaran yang dapat diambil dari Nabi Ismail adalah beliau merupakan sampel tentang seorang yang sangat berbakti kepada kedua orang tuanya. Tidak dapat ditolak bahwa “berbakti kepada orang tua” adalah faktor yang menyebabkan seorang dapat memperoleh kebahagiaan dan kesuksesan hidup. Kebahagian terletak pada keridaan Allah, dan keridaan Allah sangat terkait dengan keridaan orang tua. Kata Nabi:

رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ , وَسُخْطُهُ فِي سُخْطِهِمَا
Keridhaan Allah terletak pada keridhaan orang tua. Begitupula dengan kemurkaan mereka

Tentu kita bertanya, mengapa harus berbakti kepada orang tua? Karena orang tua telah memikul tanggung jawab yang berat dan pekerjaan yang sangat melelahkan. Tanggung jawab ini dimulai dari masa kehamilan, melewati masa menyusui, dan diakhiri  dengan masa pembentukan kepribadian dan pemberian perhatian pada anak. Berapa banyak ibu yang merasakan badannya letih, uratnya sakit, dan bebannya terasa semakin berat akibat proses kehamilan. Oleh karena itu, pantas jika Allah menyuruh kita, sebagai terima kasih kita terhadap orang tua, untuk berbakti kepadanya. Meskipun kita mengorbankan jiwa raga dan harta kita kepada orang tua, namun itu belum dapat membayar segala kebaikan orang tua kepada kita.

Pernah suatu ketika, Ibn ‘Umar melihat seorang yang menggendong ibunya sambil tawaf mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut lalu berkata kepada Ibn ‘Umar, “Wahai Ibn ‘Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, meskipun itu baru sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi, engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.”

Nabi juga pernah bercerita tentang seorang yang sangat berbakti kepada ibunya, namanya Uwais al-Qarni. Kata Nabi, “Dia memiliki seorang ibu, dan dia sangat berbakti kepada ibunya. Seandainya dia berdoa kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan doanya. Jika engkau bisa meminta kepadanya agar memohonkan ampun untukmu kepada Allah maka usahakanlah.” “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”. Umar ibn al-Khattab dan Ali ibn Abi Talib pernah bertemu dengannya dan pernah meminta doanya.

Suatu hari, ketika sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya, hempasan ombak menghantam kapal sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, mereka melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan salat di atas air.

Betapa terkejutnya mereka melihat kejadian itu. “Wahai waliyullah, tolonglah kami!” Tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu mereka berseru lagi, “Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!” Lelaki itu menoleh kepada mereka dan berkata, “Apa yang terjadi?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak?” tanya kami.
“Dekatkanlah diri kalian pada Allah!” katanya.
“Kami telah melakukannya.” Jawab mereka
“Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrahmanirrahim!”
Mereka pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah mereka lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, mereka semua tidak tenggelam, sedangkan perahu mereka berikut isinya tenggelam ke dasar laut.
Lalu orang itu berkata pada mereka, “Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat.”
“Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan?” Tanya mereka.
“Uwais al-Qarni,” jawabnya dengan singkat.
Kemudian mereka berkata lagi kepadanya, “Sesungguhnya harta yang ada dikapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.”
“Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya.
“Ya,” jawab mereka. Orang itu pun melaksanakan salat dua rakaat di atas air, lalu berdoa. Setelah Uwais al-Qarni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu mereka menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, mereka membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satu pun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qarni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Jika kita dapat menjalankan ketiga prinsip yang diajarkan oleh Nabi Ismail melalui Alquran ini, maka, dapat dipastikan kita akan mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan hidup baik di dunia ini, terlebih lagi di akhirat. Amin ya rabbal ‘alamin.***

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button