Etika Muslim Terhadap Dirinya Sendiri

Salah satu etika yang diajarkan Islam adalah bagaimana seorang muslim berakhlak terhadap dirinya sendiri? Manusia adalah makhluk yang mempunyai badan, akal dan jiwa. Beretika terhadap diri sendiri berarti memberikan hak kepada badan, akal, dan hati. Ketiga unsur ini lah yang menjadi pembentuk manusia.

Apa hak badan itu? Yang pertama, memberikan kepada badanmakanan yang halal dan bergizi (ṭayyib), bukan makanan yang haram. Karena makanan yang halal dan baik dapat memberikan pengaruh yang besar bagi kesehatan fisik dan mental kita. Para Sahabat Nabi adalah contoh yang baik bagaimana mereka menjaga dirinya dari makanan-makanan yang haram, baik haram karena zatnya maupun karena perolehannya. Tidak hanya itu, bahkan terhadap yang syubhat pun mereka menjaga diri. Contohnya adalah Abū Bakr–raḍiya Allāh ‘anh.

Suatu ketika, beliau minum seteguk susu yang diperoleh dari seorang hamba sahayanya dari hasil kerjanya. Setelah selesai minum, beliau bertanya: “Darimana asalnya susu tadi?” Hamba sahaya itu menjawab: “Saya memberikan ramalan kepada sesuatu kelompok manusia, lalu sebagai upahnya saya mendapatkan susu itu.” Mendengar jawaban itu, Abū Bakr segera memasukkan jari-jari tangannya ke dalam mulutnya dan mengusahakan agar susu tadi dapat dimuntahkan. Abū Bakr terus muntah-muntah, seakan-akan jiwanya akan melayang karenanya. Selesai muntah, Beliau lalu berdoa, “Ya Allah. Hamba mohon kepada-Mu kebebasan mengenai makanan yang telah dibawa oleh urat-urat tubuh dan yang sudah bercampuraduk di dalam perut besar.”

Hak tubuh yang kedua adalah kita harus seimbang dalam makan dan minum agar sehat badan dan kuat fisiknya. Ini sejalan dengan perintah dari Alquran: “Makan dan minumlah kalian, jangan berlebihan, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf: 31)

Rasul juga menasehati kita untuk bijak dalam segala hal, termasuk dalam makanan. Setiap orang harus memperkirakan seberapa banyak yang dia butuhkan agar tidak berlebihan dan juga tidak kekurangan. Yaitu, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk napasnya, sebagaimana disebutkan dalam hadis:

Oleh karena itu, seorang muslim dilarang menganiaya tubuhnya dengan melakukan diet yang berlebihan, mogok makan, atau perbuatan lainnya yang membahayakan tubuh.

***

Etika kedua seorang Muslim terhadap dirinya adalah ia harus memenuhi hak akalnya. Apa hak tersebut? Yaitu, menjaga akal dan memberikan nutrisi dengan cara belajar dan menuntut ilmu. Penjagaan terhadap akal ini merupakan salah satu dari maqasid al-shari’ah. Akal itu ibarat sebuah pisau, jika tidak diasah, maka ia akan tumpul. Cara mengasahnya adalah dengan belajar, berpikir, dan merenung. Alquran sendiri mengharuskan kita untuk melakukan berbagai perenungan dan penelitian, begitu pula dengan hadis-hadis Nabi yang memberikan pujian dan dorongan bagi orang yang berilmu dan belajar. Namun, dalam belajar tersebut, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Imam Syafii mengajarkan kepada bahwa ilmu tidak dapat diperoleh kecuali dengan 6 cara: kecerdasan, keinginan, waktu yang lama, biaya, kesabaran, dan petunjuk seorang guru.

Pernah ada suatu cerita tentang seorang yang menuntut ilmu, namun dia sangat sukar dalam mendapatkannya. Di dalam hatinya, dia ingin berhenti belajar. Suatu hari, dia melalui air yang menghujani batu-batu besar yang berasal dari puncak gunung. Titisan air tersebut memberi bekas  (lubang) pada batu. Dalam hatinya dia berkata: “Air yang sebegini lembutnya dapat memberikan bekas terhadap batu yang sebegini keras. Demi Allah, aku akan menuntut ilmu dan akan lebih bersungguh-sungguh belajar”. Beliau pun kembali belajar, dan mendapatkan semua yang diinginkannya.

***

Etika Muslim ketiga terhadap dirinya adalah memenuhi hak hati atau kalbunya. Caranya adalah dengan banyak berzikir kepada Allah Swt. Dalam Alquran dengan tegas dikatakan, “Ketahuilah, hanya dengan dzikir kepada Allah hati akan menjadi tenang.” 

Dengan berzikir maka hati akan menjadi tenang. Ketenangan hati akan membawa kepada kesehatan fisik dan mental-spiritual. Kesehatan fisik dan mental mengantarkan kepada kebahagiaan. Bahkan, ketika hati telah tertanam zikir kepada Allah, maka luar biasa hasilnya. Pernah, dalam kitab Miftāḥ al-Ṣalāh wa Miṣbāḥ al-Arwāḥ, yang ditulis oleh Ibn ‘Aṭā’ Allāh al-Sakandarī, dikisahkan bahwa al-Juraysī bercerita, “Salah seorang sahabat kami senantiasa berzikir menyebut nama Allah. Suatu hari kepalanya terbentur sebatang pohon, sehingga pecah dan bercucuran darahnya, lalu menetes ke tanah. Anehnya, tetesan-tetesan darah tersebut kemudian membentuk lafaz Allah di atas tanah.”

Yang kedua, dengan cara banyak mengingat kematian (dhikr al-mawt). Mengapa? Karena dengan banyak mengingat mati, maka akan membuat kita hidup zuhud terhadap dunia. Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi jangan sampai hati kita dikuasai oleh dunia. Karena ketika hati dikuasai oleh dunia, maka kita sering menggunakan berbagai cara untuk meraih dunia, yang dalam Alquran digambarkan sebagai fatamorgana, yang sering menipu dan menyilaukan mata kita.

Bagaimana caranya? Dengan banyak berziarah kubur. Nabi sendiri setiap di penghujung malam sering pergi ke Pekuburan Baqī’, memberikan salam kepada mereka dan memintakan ampun kepada Allah buat mereka. Bahkan, dalam sebuah hadis Nabi pernah menegaskan bahwa ziarah kubur itu “dapat melunakkan hati, membuat mata kita menangis, dan mengingatkan kita kepada akhirat” Dalam ziarah kubur, ada beberapa etikanya. Yaitu, memberikan salam ketika masuk ke pemakaman, tidak duduk di atas makam, dan memberikan doa serta bacaan-bacaan Alquran.

Jika tiga saja hak ini kita jalani, maka sudah dipastikan bahwa kita akan mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan dalam kehidupan di dunia ini, terlebih lagi di akhirat. Āmīn ya rabb al-‘ālamīn.

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button