Akhlak Muslim Terhadap Tuhannya

Dalam kehidupan di dunia ini kita hanya punya dua pilihan, surga atau neraka. Kedua pilihan ini menyediakan dua jalan yang berbeda. Jalan menuju neraka diliputi dengan syahwat dan kesenangan, yaitu dengan tidak mempedulikan segala perintah dan larangan Allah. Sementara itu, jalan menuju surga dikelilingi oleh kesulitan dan sesuatu yang seringkali tidak kita senangi. Intinya ketika kita menetapkan untuk memilih surga, maka kita harus menjadi seorang Muslim sejati, yang mempunyai hak dan tanggung jawab, baik kepada Allah, diri sendiri, orang lain—yang mencakup orang tua, isteri, anak, dan orang lain baik Muslim maupun non-Muslim, dan lingkungan.

Dalam kesempatan ini, kita akan membahas bagaimana kita berakhlak dan beradab kepada Allah Swt. Yang pertama, beribadah dan tidak menyekutukan-Nya. Dalam Alquran dengan jelas ditegaskan “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. al-Dhāriyyāt: 56). Firman Allah ini menggariskan dengan tegas bahwa misi hidup manusia di dunia ini adalah ibadah. Substansinya, seluruh gerak langkah, desah nafas, dan aliran darah manusia tidak boleh keluar dari kerangka pengabdian (ibadah) kepada Allah SWT.

Suatu ketika, ada seseorang yang menjumpai Ibrāhīm ibn Adham. Ia berkata kepadanya, “Wahai Abu Ishaq, aku ini gemar sekali berbuat maksiat. Aku ingin berhenti, tetapi sering tidak bisa. Karena itu, tolonglah aku. Berilah aku nasihat agar aku tidak bermaksiat lagi.”

Ibrahim bin Adham menjawab, “Bagiku, tak masalah engkau gemar berbuat maksiat, asalkan engkau memenuhi dulu lima syarat.” Heran campur bingung, lelaki itu bertanya, “Apa saja lima syarat itu, wahai Abu Ishaq, sehingga saya dapat bebas berbuat maksiat?”

“Syarat pertama,” kata Ibrahim bin Adham, “Jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah, janganlah engkau makan dari rezeki-Nya.” “Lalu, saya mau makan apa? Semua yang saya makan adalah rezeki dari Allah.” “Kalau begitu, pantaskah engkau memakan rezeki dari Allah, sedangkan engkau suka melanggar perintah-Nya?” jawab Ibrahim.

“Baiklah. Apa syarat yang kedua?” “Kalau engkau ingin bermaksiat kepada Allah, janganlah engkau tinggal di bumi-Nya.” “Kalau bukan di bumi milik Allah, aku harus tinggal di mana? Bumi dan langit ini semuanya milik Allah.” “Kalau begitu, layakkah engkau makan dari rezeki Allah dan tinggal di bumi-Nya, sedangkan engkau gemar menentang aturan-Nya?”

Orang itu terdiam. Namun, ia kemudian bertanya lagi, “Baiklah. Terus, apa syarat yang ketiga?” “Jika engkau ingin tetap makan dari rezeki Allah dan tetap tinggal di bumi milik-Nya, namun engkau pun tetap ingin bermaksiat kepada-Nya, silakan saja, asal engkau lakukan itu di tempat yang tidak dilihat oleh-Nya.”

“Wahai, Abu Ishaq,” kata lelaki itu, “Mana mungkin saya bersembunyi di tempat yang tidak dilihat-Nya, sementara Dia adalah Zat Yang Maha Awas?” “Jika demikian, lalu mengapa engkau tetap bermaksiat kepada-Nya?” tegas Ibrahim lagi. “Baiklah. Sekarang, apa syarat yang keempat?” “Kalau Malaikat Maut datang menjemputmu, sedangkan engkau dalam keadaan bermaksiat kepada Allah, katakan saja kepadanya, ‘Nanti saja, jangan cabut nyawaku dulu. Beri dulu aku kesempatan untuk bertobat dan beramal salih.’” “Wahai Abu Ishaq, mana mungkin?”Kalau engkau sadar bahwa kematian tidak bisa ditunda, lalu mengapa engkau tetap tak mengindahkan perintah dan larangan-Nya?”

“Baiklah. Sekarang, apa syarat yang kelima.” “Apakah engkau sudah tahu nasibmu nanti di akhirat, apakah masuk surga atau masuk neraka?” tanya Ibrahim balik bertanya. “Tentu saja saya tidak tahu.” “Kalau engkau tidak tahu nasibmu nanti di akhirat, apakah masuk surga atau masuk neraka, hal itu seharusnya sudah cukup untuk menghentikan dirimu dari kegemaranmu berbuat maksiat kepada-Nya.”

Orang itu pun menangis. Ia kemudian berkata, “Wahai Abu Ishaq, cukup. Jangan Anda teruskan lagi. Mulai hari ini, aku akan bertobat dengan sebenar-benarnya kepada Allah. Aku berjanji, mulai hari ini aku tidak akan bermaksiat lagi.” Demikianlah, sejak nasihat itu, lelaki itu berubah menjadi orang yang shalih dan berusaha menjauhi segala kemaksiatan kepada Allah.

Kedua, mensyukuri segala nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Bagaimana caranya? Para ulama mengemukakan tiga cara bersyukur kepada Allah, yaitu :

Pertama, bersyukur dengan hati nurani, dengan tidak pernah mengingkari banyaknya nikmat Allah. Dan dengan detak hati yang paling dalam, kita menyadari bahwa seluruh nikmat yang kita peroleh setiap detik dalam hidup kita tidak lain berasal dari Allah. Hanya Allah yang mampu menganugerahkan nikmat-Nya.

Kedua, Bersyukur dengan ucapan, dengan  mengucapkan hamdalah. Dalam hadis disebutkan, “Barangsiapa mengucapkan subhanallah, maka baginya 10 kebaikan. Barangsiapa membaca la ilaha illallah, maka baginya 20 kebaikan. Dan, barangsiapa membaca alhamdulillah, maka baginya 30 kebaikan.”

Ketiga, Bersyukur dengan perbuatan, dengan mempergunakan segala anggota tubuh untuk hal-hal yang positif. Menurut Imam Al-Ghazali, ada tujuh anggota tubuh yang harus dimaksimalkan untuk bersyukur, seperti mata, telinga, lidah, tangan, perut, kemaluan, dan kaki. Seluruh anggota ini diciptakan Allah sebagai nikmat-Nya untuk kita.

Akhlak ketiga terhadap Allah adalah bersikap rida terhadap ketentuan dan takdir Allah Swt. Nabi Saw bersabda: “Sungguh ajaib keadaan seorang Muslim. Semua urusannya dapat menjadi sebuah kebaikan. Jika ia ditimpa suatu kesenangan, lalu ia bersyukur, maka akan menjadi kebaikan buat dirinya. Dan jika ia terkena kesulitan, lalu ia bersabar, maka itu akan menjadi kebaikan buat dirinya.”

Diceritakan bahwa Malaikat Maut menemui Nabi Sulaiman. Malaikat Maut melihat dengan tajam dalam waktu yang lama kepada salah seorang pembantu Nabi Sulaiman. Ketika Malaikat Maut keluar, laki-laki itu bertanya, “Wahai Nabi Allah, siapakah orang yang masuk tadi?” Nabi Sulaiman menjawab, “Malaikat Maut”. Laki-laki itu berkata lagi, “Aku takut Malaikat Maut hendak mencabut nyawaku. Oleh karena itu, aku akan menghindar darinya”. Nabi Sulaiman berkata, “Bagaimana caramu menghindar darinya?” Laki-laki itu menjawab, “Suruhlah angin membawaku ke negeri India saat ini juga. Mudah-mudahan Malaikat Maut terkecoh dan tidak dapat menemukanku”. Nabi Sulaiman as menyuruh angin untuk membawa laki-laki itu ke tempat yang dituju. Malaikat Maut kembali dan menemui Nabi Sulaiman. Kemudian Nabi Sulaiman bertanya kepada Malaikat Maut, “Mengapa engkau melihat kepada laki-laki itu lama sekali?” Malaikat Maut berkata, “Aku sungguh merasa heran terhadapnya. Aku diperintahkan untuk mencabut nyawanya di negeri India padahal negeri itu sangat jauh. Tetapi ternyata angin telah membawanya ke sana. Itulah takdir Allah Swt.” (Al-Ghazali)

Artikel terkait

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button