Adab Seorang Muslim Terhadap Orang Tuanya

Salah satu akhlak seorang Muslim adalah berbakti kepada orang tua. Alquran memberikan perhatian yang sangat serius terhadap persoalan ini, bahkan ketika Alquran memerintahkan kita untuk beribadah kepada Allah serta tidak menyekutukan-Nya, Alquran pun mengiringkan perintah tersebut dengan perintah untuk berbakti kepada orang tua.  “Sembahlah Allah dan jangan kalian persekutukan Dia, dan kepada orang tua hendaklah kaliab berbuat baik.” (QS al-Nisa: 36)

Mengapa ini menjadi suatu yang yang penting? Karena ada korelasi yang sangat erat antara kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat dengan berbakti kepada orang tua. Dan ini dipertegas dalam banyak hadis Nabi Muhammad Saw. Di antaranya adalah:

Pertama, seorang yang berbakti kepada orang tuanya akan mendapatkan keridaan dari Allah Swt. Keridaan Allah akan mengantarkan kepada kebahagiaan di dunia dalam bentuk kesuksesan hidup. Kata Nabi, “Ridha Allah pada ridha kedua orang tua, dan kemurkaan Allah berada pada kemurkaan kedua orang tua.”

Nabi pernah bercerita tentang seorang yang bernama Uways al-Qarni.

“Dia memiliki seorang ibu, dan dia sangat berbakti kepada ibunya. Seandainya dia berdoa kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan doanya. Jika engkau bisa meminta kepadanya agar memohonkan ampun untukmu kepada Allah maka usahakanlah.” “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”. Umar ibn al-Khattab dan Ali ibn Abi Talib pernah bertemu dengannya dan pernah meminta doanya.

Suatu hari, ketika sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya, hempasan ombak menghantam kapal sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, mereka melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan salat di atas air.

Betapa terkejutnya mereka melihat kejadian itu. “Wahai waliyullah, tolonglah kami!” Tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu mereka berseru lagi, “Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!” Lelaki itu menoleh kepada mereka dan berkata, “Apa yang terjadi?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak?” tanya kami.

“Dekatkanlah diri kalian pada Allah!” katanya.

“Kami telah melakukannya.” Jawab mereka

“Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrahmanirrahim!”

Mereka pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah mereka lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, mereka semua tidak tenggelam, sedangkan perahu mereka berikut isinya tenggelam ke dasar laut.

Lalu orang itu berkata pada mereka, “Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat.”

“Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan?” Tanya mereka.

“Uwais al-Qarni,” jawabnya dengan singkat.

Kemudian mereka berkata lagi kepadanya, “Sesungguhnya harta yang ada dikapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.”

“Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya.

“Ya,” jawab mereka. Orang itu pun melaksanakan salat dua rakaat di atas air, lalu berdoa. Setelah Uwais al-Qarni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu mereka menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, mereka membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satu pun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qarni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya

Kedua, jika seorang berbakti kepada orang tua, anak-anak mereka nanti akan berbakti kepadanya. Jika kita melihat banyak anak yang kurang ajar terhadap kedua orang tuanya, mungkin perlu melihat kepada diri sendiri, apakah dulunya mereka berbakti kepada orang tua. Karena sebagaimana dijanjikan Nabi Muhammad Saw, “Berbuat baiklah kepada kedua orang tua kalian, niscaya anak-anak kalian akan berbuat baik kepada kalian.”

Kasih orang tua kepada anak-anaknya itu tanpa pamrih, tidak mengharapkan apa pun. Berbeda dengan anak terhadap orang tuanya. Pernah suatu ketika, Ibn ‘Umar melihat seorang yang menggendong ibunya sambil tawaf mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut lalu berkata kepada Ibn ‘Umar, “Wahai Ibn ‘Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, meskipun itu baru sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi, engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.”

***

Di masa Nabi, ada seorang pemuda bernama ‘Alqamah, seorang yang sungguh-sungguh dalam taat kepada Allah. Kemudian ia sakit dan sakarat, lalu isterinya datang menemui Rasul dan memberitahukan perihal suaminya. Rasul pun mengutus Ammar, Suhayb, dan Bilal untuk mentalqin ‘Alqamah, namun lidahnya kelu, tidak bisa mengucapkannya. Mereka pun datang menemui Rasul dan memberitahukan keadaannya tersebut. Lalu, Rasul bertanya, “Apakah orang tuanya masih ada yang hidup?” Dijawab, “Ada, ibunya yang sudah tua renta.” Lalu, ibunya diminta datang untuk menemui Rasul, dan dia berkata, “Saya marah kepadanya. Anakku lebih mengutamakan isterinya ketimbang diriku.” Rasul berkata, “Wahai Bilal, pergilah dan kumpulkan kayu yang banyak.” Ibu ‘Alqamah bertanya, “Apa yang ingin Anda lakukan?” “Saya akan membakarnya di hadapanmu. “Wahai Ibu ‘Alqamah, azab Allah itu sangat pedih, jika kamu ingin Allah mengampuninya, maka ridhailah dia! Demi Allah, salat, puasa, dan sedekahnya ‘Alqamah tidak memberikan manfaat sama sekali selama Anda masih marah kepadanya.” Akhirnya ibunya meridhainya, dan wafatlah ‘Alqamah dengan mengucapkan kalimat syahadat.

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca juga
Close
Back to top button