Adab dan Etika Sosial Media

Lima belas abad yang lalu, di hadapan masyarakat yang sebagian besar buta baca tulis Nabi pernah mengungkapkan satu pernyataan tentang salah satu tanda kecil kiamat. “Di antara tanda hari kiamat adalah munculnya qalam”. Apa yang dimaksud qalam dalam hadis ini? Yaitu, tersebarnya artikel, informasi, yang begitu masif dan sangat cepat, menjangkau segala lapisan dan tempat di dunia. Dan sekarang kita dapati berbagai penyebaran tulisan dan artikel ini di media yang disebut media sosial, seperti fesbuk, whatsap, twitter, dan sebagainya.

Dalam Islam, media sosial hanyalah alat dan tentunya bersifat netral, tergantung niat dan tujuan dari yang menggunakannya. Jika digunakan untuk pendidikan dan penyebaran dakwah Islam, untuk kebaikan masyarakat, atau untuk memberikan informasi yang mencerdaskan, maka media sosial menjadi sangat penting. Dalam salah satu kaidah fikih yang populer disebutkan: “Sesuatu yang wajib tidak akan dapat dilakukan kecuali jika menggunakan sesuatu tersebut, maka sesuatu itu menjadi wajib disediakan” (Ma la yatimm al-wajib illa bihi fa-huwa wajib). Dalam sebuah kaidah lain, dalam makna yang sama, juga disebutkan, “Perintah untuk melakukan sesuatu berarti perintah untuk menghadirkan media-medianya.” (al-amr bi al-shay’ amr bi wasa’ilihi)

Sebaliknya, jika media sosial digunakan untuk maksiat, menyebarkan fitnah, kebencian, atau berita bohong, untuk meresahkan masyarakat, maka ia menjadi haram.

***

Apa yang dilakukan ketika menerima suatu berita yang meresahkan atau dapat menimbulkan ketegangan? Alquran, dalam surat al-Hujurat: 6, telah mengajarkan satu etika yang disebut tabayyun. Apa itu tabayyun? Ia berasal dari bahasa Arab yang berarti “menyelidiki sampai benar-benar jelas berita tersebut”. Tabayyun mempunyai tahapan sebagai berikut:

Pertama, ketika menerima berita tidak langsung menyebarkan berita tersebut. Karena seandainya berita itu tidak benar, dan sudah disebarluaskan, maka akan memberikan dampak yang negatif terhadap masyarakat. Berapa banyak keluarga yang hancur karena berita tidak benar. Berapa banyak masyarakat yang saling curiga karena berita tidak benar. Berapa banyak orang yang berkonflik karena berita yang tidak benar. Karena itu, Nabi Muhammad Saw mengatakan: “Cukuplah dikatakan seorang berdusta, jika ia menyampaikan semua yang ia dengar” (Hadis sahih).

Kedua, meneliti kebenaran berita tersebut dengan mencari bukti-bukti yang akurat atau melakukan analisis yang mendalam.

Ketiga, mengambil tindakan atau memberikan respons berdasarkan hasil analisis dan verifikasi tersebut. Yaitu, menyebarkan kepada orang lain jika berita itu benar, dan membuangnya jika berita itu tidak benar.

Jika tidak melakukan tabayyun terhadap setiap informasi yang bersifat meresahkan, maka akan muncul masalah. Alquran memberikan warning, jangan sampai keputusan kita yang tanpa didasari oleh sikap tabayyun, menimpakan satu fitnah dan bencana kepada satu kelompok masyarakat karena ketidaktahuan kita, sehingga akhinya kita menjadi menyesal. Berbagai konflik yang terjadi di tengah masyarakat sebagiannya terjadi

Ayat ini turun karena peristiwa berita bohong yang harus diteliti kebenarannya dari seorang Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith tatkala ia diutus oleh Rasulullah untuk mengambil dana zakat dari Suku Bani Al-Musththaliq yang dipimpin waktu itu oleh Al-Harits bin Dhirar seperti dalam riwayat Imam Ahmad. Al-Walid malah menyampaikan laporan kepada Rasulullah bahwa mereka enggan membayar zakat, bahkan berniat membunuhnya, padahal ia tidak pernah sampai ke perkampungan Bani Musththaliq. Kontan Rasulullah murka dengan berita tersebut dan mengutus Khalid untuk mengklarifikasi kebenarannya, sehingga turunlah ayat ini mengingatkan bahaya berita palsu yang coba disebarkan oleh orang fasik yang hampir berakibat terjadinya permusuhan antar sesama umat Islam saat itu. Yang menjadi catatan disini bahwa peristiwa ini justru terjadi di zaman Rasulullah yang masih sangat kental dan dominan dengan nilai-nilai kebaikan dan kejujuran. Lantas bagaimana dengan zaman sekarang yang semakin sukar mencari sosok yang jujur dan senantiasa beri’tikad baik dalam setiap berita dan informasi yang disampaikan?

***

Nabi Muhammad Saw sudah memberikan contoh yang baik dalam sikap tabayyun terhadap suatu berita yang berpotensi meresahkan. Begitu pula dengan cerita yang Allah hadirkan dalam Alquran tentang sikap tabayyun Nabi Sulaiman ketika disampaikan berita oleh seekor burung Hud-hud.

Dalam surat al-Naml: 22-27 dikisahkan bahwa burung Hud Hud menyaksikan sebuah kaum penyembah matahari di bumi Yaman, yang dahulu disebut negeri Saba. Hal itu kemudian disampaikan kepada Nabi Sulaiman, “Aku datang kepadamu (Sulaiman) dengan membawa kabar yang pasti dari negeri Saba.” Burung Hud-hud tidak mengatakan, “Aku mendengar begini,” atau “Kata orang begini”. Namun dia membawa berita yang langsung ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Namun, Nabi Sulaiman tidak serta merta mempercayainya, namun justru mengatakan, “Kita akan lihat, apakah kamu termasuk orang yang terpercaya atau pendusta.”

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button